Mahasiswa Magister Kajian Pariwisata UGM Angkatan 2025 Tuntaskan Rangkaian Kuliah Lapangan di Berbagai Destinasi dan Ruang Pembelajaran

Yogyakarta – Mahasiswa Angkatan 2025 Program Studi Magister Kajian Pariwisata Universitas Gadjah Mada telah menyelesaikan berbagai kegiatan kuliah lapangan pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari proses pembelajaran yang menghubungkan teori di kelas dengan realitas praktik pariwisata di lapangan.

Sepanjang semester, mahasiswa mengikuti kuliah lapangan pada sejumlah mata kuliah dengan fokus kajian yang beragam. Mata Kuliah Etika Pariwisata melaksanakan pembelajaran lapangan di Candi Borobudur pada 2 April 2026 untuk mengkaji berbagai isu etika dalam pengelolaan destinasi warisan budaya. Sementara itu, Mata Kuliah Manajemen Ekowisata menyelenggarakan kuliah lapangan internasional di Singapura pada 30 April–3 Mei 2026 guna mempelajari praktik pengelolaan pariwisata dan lingkungan yang berkelanjutan.

Pembelajaran berbasis praktik juga dilakukan melalui Mata Kuliah Perilaku Wisatawan yang mengadakan proyek konsultasi di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM (GIK), serta Mata Kuliah Metode Penelitian Kualitatif yang menjadikan kawasan Jalan Malioboro sebagai ruang belajar untuk memahami dinamika sosial dan aktivitas wisata melalui observasi lapangan.

Selain itu, mahasiswa juga secara intensif melaksanakan studi lapangan dalam Mata Kuliah Perencanaan Objek Daya Tarik Wisata. Sebanyak enam kelompok melakukan kajian perencanaan destinasi di Ketep Pass, Situs Surocolo, Pantai Goa Cemara, Waduk Sermo, Plunyon Kali Kuning, dan Kebun Teh Nglinggo. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa melakukan identifikasi potensi, analisis kondisi eksisting, hingga penyusunan rekomendasi pengembangan destinasi.

Rangkaian kuliah lapangan ini mencerminkan pendekatan pembelajaran yang menjadi ciri Magister Kajian Pariwisata UGM, yaitu mengintegrasikan refleksi akademik dengan pengalaman empiris. Dengan terlibat langsung di berbagai destinasi dan ruang praktik, mahasiswa tidak hanya memahami pariwisata sebagai objek kajian, tetapi juga sebagai fenomena yang dinamis dan membutuhkan solusi berbasis pengetahuan, keberlanjutan, serta kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*