Arsip:

Berita

Doktor Kajian Pariwisata SPs UGM laksanakan Kuliah Lapangan di Desa Wisata Pancoh

Program Studi Doktor Kajian Priwisata Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) kembali menyelenggarakan kuliah lapangan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang berbasis pengalaman. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa 25 Oktober 2022 di Desa Wisata Pancoh.

Kuliah lapangan ini diikuti oleh mahasiswa Doktor Kajian Pariwisata dari Angkatan 2021/2022 Genap dan Angkatan 2022/2023 Gasal yang didampingi langsung oleh Ketua Program Studi Hendri Adji Kusworo, M.Sc., Ph.D. 

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pembelajaran akademik, tetapi dapat membuka peluang kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, dan pelaku pariwisata dalam mengembangkan riset serta inovasi kebijakan di sektor pariwisata. read more

Kuliah Dosen Tamu: Pariwisata Pasca Pandemik COVID19

Prodi Magister Kajian Pariwisata Sekolah Pascasarjana UGM mengedepankan pengetahuan lintas disiplin dan kebaruan dalam ilmu kepariwisataan. Pengetahuan lintas disiplin dan kebaruan dalam bidang pariwisata diwujudkan dalam acara Guest Lecture yang diselenggarakan oleh Prodi Magister Kajian Pariwisata UGM dengan Tema Post-pandemic Tourism Development: Conceptual and Practical Approaches. Acara Guest Lecture tersebut dilaksanakan pada Selasa 25 Oktober 2022.

Narasumber dari acara tersebut adalah Dr. Jasper Heslinga (Senior Lecturer-Researcher at NHLStenden, Program manager at CELTH) dan Menno Stokman (Director Centre of Expertise Leisure, Tourism & Hospitality CELTH, Senior Expert Tourism PUM). Acara tersebut merupakan kuliah umum dengan dosen tamu dan dihadiri oleh mahasiswa Sekolah Pascasarjana serta bersifat wajib bagi mahasiswa aktif Prodi Magister Kajian Pariwisata. read more

Program Doktor Kajian Pariwisata SPs UGM Gelar Monitoring Kemajuan Studi untuk Evaluasi Akademik Mahasiswa

Program Doktor Kajian Pariwisata Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) kali ini menyelenggarakan kegiatan monitoring kemajuan studi pada Jumat 30 September 2020. Kegaitan ini bertujuan untuk mengevaluasi perkembangan akademik mahasiswa serta memastikan bahwa proses studi berjalann sesuai dengan rencana yang di tetapkan SPs UGM.

Dalam kegiatan ini seluruh mahasiswa Program Doktor Kajian Pariwisata diwajibkan untuk mempresentasikan laporan kemajuan studi, seperti progres penelitian, penyusunan disertasi serta menyampaikan kedala yang dihadapi selama proses akademik. Selanjutkan Kepala Program Studi Doktor Kajian Pariwisata Hendrie Adji Kusworo, M.Sc. Ph.D. beserta Dosen memberikan masukan dan arahan bagi mahasiswa. read more

Program Doktor Kajian Pariwisata gelar workshop dalam mendukung Publikasi Ilmiah Mahasiswa

Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan ketrampilan mahasiswa dalam publikasi ilmiah, kali ini Program Studi Doktor Kajian Pariwisata Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) menyelenggarakan Workshop berjudul Tips and Trick Publikasi Tugas Akhir pada Kamis, 27 Januari 2022 secara hybrid dengan menghadirkan narasumber ahli yaitu  Prof. Dr. Muh Aris Marfai, S.Si., M.Sc.

Selain sesi pemaparan, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi interaktif, di mana mahasiswa berkesempatan untuk berkonsultasi mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam publikasi. Beberapa pertanyyan yang dibahas meliputi self plagiasi karya tulis, cara meningkatkan peluang diterima di jurnal. read more

Mahasiswa S3 Kajian Pariwisata SPs UGM Laksanakan Kuliah Lapangan dengan Gowes Kampung Budaya Candi Plaosan

Mahasiswa Program Doktor Kajian Pariwisata, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM), melaksanakan kuliah lapangan dengan konsep unik, yaitu Bersepeda bersama atau yang kerap disebut Gowes bersama, pada 18 November 2021 ke Kampung Budaya Candi Plaosan. Kegiatan ini bertujuan untuk memahami lebih dalam aspek budaya, sejarah, serta pengelolaan destinasi wisata berbasis komunitas di kawasan Candi Plaosan dan sekitarnya.

Kegiatan dimulai pada pukul 07.00 WIB di Paseban Candi Kembar, di mana para peserta menikmati suasana pagi dengan ngeteh bareng yang merupakan bagian dari tradisi lokal yang masih lestari. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi lokasi pembuatan jamu tradisional, memberikan wawasan tentang warisan budaya dalam aspek kesehatan dan kesejahteraan masyarakat setempat. read more

Penerimaan mahasiswa baru

Penerimaan mahasiswa baru
Magister Kajian Pariwisata Sekolah Pascasarjana UGM 2021

Informasi umum

Daya tampung

Gelombang 1 : 20

Gelombang 2 : 10

Biaya pendaftaran sebesar Rp 500.000,-

Persyaratan umum

Persyaratan umum dapat dilihat pada link berikut

Persyaratan khusus

  • Calon mahasiswa lolos tes wawancara
  • Calon mahasiswa menyiapkan rencana topik penelitian (1 halaman) – template rencana topik penelitian dapat di download disini

SSN Kepariwisataan #11: ‘Dinamika Ekowisata Tri ning Tri di Bali’

Pariwisata masih menjadi sektor penyedia kesempatan kerja terbesar di Bali dan berkontribusi tinggi pada ekonomi Bali secara umum. Perkembangan kepariwisataan Bali dalam dua dekade terakhir (2000-2019) tetap didominasi oleh produk berupa atraksi-atraksi mass tourism. Salah-satu kecenderungan yang cukup menonjol dari trend tersebut adalah meningkatnya pertambahan atraksi-atraksi pariwisata baru yang sering dinobatkan sebagai atraksi pariwisata berbasis alam. Hampir di setiap kawasan strategis muncul atraksi pariwisata yang disulap dari sekedar atraksi budaya biasa menjadi kawasan tematik, seperti taman yang menghadirkan suasana alam bebas. Kendati demikian, di balik gemuruh perkembangan kepariwisataannya, Bali sebagai destinasi pariwisata, sesungguhnya menyimpan persoalan yang cukup serius, terutama dalam aspek keseimbangan sumber daya alam, kurang meratanya pembagian ‘kue pariwisata’ antar wilayah maupun lapisan masyarkat dan berkurangnya solidaritas sosial.

Topik inilah yang diangkat dalam Seminar Series Nasional Kepariwisataan ke #11 yang diselenggarakan oleh Prodi S3 Kajian Pariwisata, Sekolah Pascasarjana UGM. Tema yang diangkat adalah ‘Dinamika Ekowisata Tri ning Tri di Bali’. Seminar ini menghadirkan pembicara Dr. I Nyoman Sukma Arida, S.Si, M.Si dari Fakultas Pariwsata, Universitas Udayana. Dr. Sukma juga merupakan alumni dari S3 Kajian Pariwisata SPS UGM. Hadir sebagai pembahas adalah Prof. Dr. Sudarmadji, M.Eng.Sc, guru besar Fakultas Geografi UGM dan dimoderatori oleh Bayu Sutikno, SE., M.S.M, Ph.D dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.

Dalam paparannya Dr. Sukma, mengatakan ‘Di tengah situasi demikian, sulit menemukan wujud dari ekowisata Bali. Namun beberapa pihak sejak tahun 1990 an tetap konsisten memperjuangkan berkembangnya ekowisata di Bali — Jaringan Ekowisata Desa.’ Belakangan beberapa desa wisata juga menjadikan aspek konservasi sebagai basis pengembangannya. Dr. Sukma menjelaskan tentang program pendampingan dan promosi desa wisata yang ia lakukan melalui godevi.id. Ada pergeseran nilai keotentikan dan orisinalitas alam Bali yang bercirikan pariwisata budaya yang bernafaskan filosofi Tri Hita Karana. Beberapa atraksi baru yang dikembangkan oleh investor asing dengan kekuatan yang besar akibat terbukanya kebijakan pemerintah untuk membuka investasi asing.

Dr. Sukma menjelaskan temuan dari hasil penelitiannya yang bertujuan untuk memahami tipologi ekowisata di Bali dan kekuatan dominan yang melatarbelakangi munculnya berbagai tipe, bentuk dan wujud produk ekowisata. Ia mengatakan bahwa di Bali ekowisata dapat ditipologikan dalam tiga tipe: yaitu investor, pemerintah dan masyarakat. Masing masing tipe ekowisata memiliki ciri yang berbeda berdasarkan produk, strategi pengembangan, pola pelibatan masyarakat dan karakter wisatawan.

Selain itu Dr. Sukma juga menyoroti adanya pseudo-ekowisata di Bali, atau ekowisata semu. Kegiatan pariwisata Nampak seperti ekowisata padahal peran masyarakat lokal di sekitar obyek ekowisata termarginalkan. Ia juga memberikan contoh kasus di Desa Taro yang muncul sebagai Gerakan desa wisata sebagai perlawanan halus atau counter wacana terharap hegemoni wisata gajah atau sebagai representasi investor besar. Desa Taro merupakan desa dengan tipe ekowisata Hibrid yaitu percampuran antara investor-pemerintah-masyarakat.

Dr. Sukma berharap pendemi Covid-19 dapat menjadi refleksi bagi destinasi wisata di Bali apakah benar yang dilakukan adalah benar benar ekowisata atau pseudo-ekowisata.

Sebagai pemapar Prof. Sudarmadji menyoroti pentingnya keberlanjutan desa wisata atau destinasi ekowisata. Bisa jadi permasalahan terjadi dari pengelolaan maupun dari wisatawan. Sehingga Prof. Sudarmadji menyarankan untuk selalu memperhitungkan kondisi lingkungan ketika mengembangkan obyek wisata yaitu dengan mempertimbangkan kapasitas jangan sampai terjadi overcapacity. Prof. Sudarmadji mengatakan, ‘Jangan sampai lingkungan diabaikan dan hanya berkonsentrasi pada kenaikan pendapatan dan kesejahteraan, karena jika daya dukung dan daya tampung lingkungan terlampaui maka akan membuat kerugian yang lebih besar pada semua aspek.’

Diskusi berlangsung dengan baik diikuti oleh sekitar 160 peserta baik mahasiswa, peneliti, pemerhati pariwisata maupun masyarakat luas.

SSN Kepariwisataan #10: Servicescape: Strategi Wisata Kuliner di Yogyakarta

Bisnis makanan dan minuman adalah salah satu pendukung kegiatan pariwisata. Bisnis kuliner juga masuk 16 subsektor ekonomi kreatif yang memberikan kontribusi terhadap PBD yaitu 41,69%. Bisnis kuliner sangat berkembang di DIY. Hal ini dibuktikan pada tahun 2010, terdapat lebih dari 150 restoran menjadi anggota Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI) dan 375 tempat kuliner tahun 2020. Dalam pengembangan wisata kuliner, servicescape merupakan konsep yang sangat penting untuk menjaga kesetiaan pelanggan kuliner. Servicescape adalah konsep yang menjelaskan gaya dan tampilan fisik dari kuliner. Servicescape adalah fasilitas fisik dalam pelayanan untuk kebutuhan tamu untuk mempengaruhi perilaku dan memuaskan tamu dimana design akan memberi dampak positif baik tamu maupun staf/karyawan. Namun demikian, konsen ini masih jarang diekplorasi didalam keilmuan pariwisata maupun diketahui oleh pengusaha kuliner.

 

Topik inilah yang diangkat dalam Seminar Series Nasional Kepariwisataan ke #10, dengan tema Servicescape: Strategi Wisata Kuliner Di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pembicara pada seminar ini adalah Dr. Sri Sulartiningrum, alumni S3 Kajian Pariwisata UGM. Sebagai pembahas hadir Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc, dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM dan dimoderatori oleh Dr. Ir. Muhammad, ST, MT dari Sekolah Pascasarjana UGM. Seminar dilaksanakan secara daring pada tanggal 9 Maret 2021.

 

Dr. Ningrum menjelaskan bahwa dia melaksanakan riset guna mengetahui konsep servicescape dan strategi menarik pengunjung ke restoran etnik dan untuk menganalisis indikator dan kebermanfaatan servicescape bagi wisata kuliner. Dr. Ningrum mengambil studi kasus di restoran etnik Raminten, Bale Raos dan Mang Engking di Yogyakarta.

 

Dari hasil penelitiannya, Dr. Ningrum menyimpulkan bahwa masing masing strategi wisata kuliner di lokasi penelitian menunjukkan adanya faktor budaya yang dominan, dimana faktor budaya mampu merefleksikan servicescape. Pembicara merekomendasikan kepada pengelola restoran etnik untuk meningkatkan servicescape dari segi ambient, desain, citra, perilaku, produk, harga dan budaya supaya dapat meningkatkan loyalitas konsumen. Selain itu Dr. Ningrum menambahkan perlunya papan informasi yang dipasang uuntuk memudahkan pecinta kuliner menemukan restoran etnik tersebut. Dalam sisi akademis, Dr. Ningrum menekankan perlunya memasukan aspek budaya dalam konsep servicescape, untuk dapat menjadi variabel penting saat mengevaluasi servicescape.

 

Sebagai pembahas, Prof. Eni memberikan tanggapan bahwa kuliner dapat berfungsi sangat luas, tidak hanya tentang makanan dan minuman namun menyangkut aspek seperti identity (identitas), dignity (kedaulatan) dan bahkan nasionalisme. Terlihat saat ini masuknya budaya K-pop mempengaruhi selera makan anak anak remaja, terutama mahasiswa nya. Kuliner dapat menjadi media untuk akulturasi budaya dan menunjukkan kedaulatan sebuah bangsa. Sehingga Prof. Eni mendukung perlunya penajaman visi dan misi pengembangan kuliner nusantara karena memiliki peran ganda yang sangat bermanfaat baik untuk pariwisata, ekonomi, pemenuhan aspek pangan, tetapi juga kedaulatan sebuah bangsa.

 

Diskusi berlangsung dengan baik diikuti oleh sekitar 90 peserta baik mahasiswa, peneliti, pemerhati pariwisata maupun masyarakat luas.

SSN Kepariwisataan # 9: Pariwisata Tour de Singkarak: Memudarnya Sebuah Harapan?

Pariwisata yang berbasis Olah Raga atau ‘Sport Tourism’ pada decade ini mulai dipertimbangkan sebagai kegiatan yang menguntungkan dari sisi ekonomi dan pengembangan pariwisata. Dengan adanya event olah raga diharapkan akan mempromosikan destinasi, mendatangkan atlit dan para penontonnya, meningkatan ekspose destinasi secara lebih luas dan akhirnya meningkatkan pendapatan daerah. Namun demikian, apa yang terjadi jika sebuah event olah raga yg dilaksanakan setiap tahun ternyat tidak mendongkrak kunjungan wisata secara significan? Apakah kegiatan event ini menjadi mubadzir dan perlu dihentikan? Ataukah ada masalah di dalam menghitung kontribusi pariwisata terhadap daerah?

 

Materi diatas menjadi diskusi yang menarik dilaksanakan oleh Prodi S3 Sekolah Pascasarjana UGM, pada hari Selasa, 23 Februari 2021. Hadir sebagai pembicara Dr. Retnaningtyas Susanti, M.Par dosen Universitas Negeri Padang, alumni S3 Prodi Kajian Pariwisata Sekolah Pascasarjana UGM. Sebagai pembahas adalah Dr. Muhammad Yusuf M.A, dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM dan dimoderatori oleh Dr. Dian Arymami, SIP, M.Hum.

 

Dr. Tyas, begitu beliau disapa, meneliti perkembangan dan dampak Tour De Singkarak terhadap pariwisata dan kontribusi ekonomi. Dia menemukan, ‘Ada kecemasan yang timbul dari pelaksanaan Tour De Singkarang yang dianggap tidak memberikan hasil signifikan secara ekonomi bagi daerah padahal penyelenggaraannya menghabiskan dana yang besar’. Tour De Singkarak adalah event olahraga sepeda tingkat internasional yang telah diadakan sejak 2019 melewati Danau Singkarak dan mengambil route sekitar Sumatera Barat. Pada 2020 dan 2021 Tour De Singkarak tidak dilaksanakan karena masa pandemi.

 

Menurut Dr. Tyas, meskipun secara signifikan jumlah kunjungan dan pariwisata tidak meningkat sebagaimana yang ditargetkan pemerintah daerah, tetapi karena adanya TDS daerah mendapatkan keuntungan dari aspek lain seperti terbukanya akses jalan baru, perbaikan jalan yang rusak, yang memberikan kenyamanan dalam berkendaraan dan mengurangi lama waktu perjalanan. Secara tidak langsung ini memberikan manfaat pada mobilisasi barang dan jasa bagi daerah. Selain itu, adanya pembangunan akomodasi baru di luar Padang dan Bukittinggi, sehingga daerah sekitar juga dapat merasakan kegiatan pariwisata.

 

Dr. Tyas juga menyebutkan bahwa dengan adanya TDS, pengelola destinasi bersemangat untuk memperbaiki kualitas destinasi ke arah standar internasional. Misalnya,  toilet di Pantai Tirampadang diperbaiki sesuai standard, pedestrian di Pantai Padang tersedia dengan baik, dibangunnya Kawasan parkir Pantai Carocok dan Pantai Gondoriah. Kendati demikian Dr. Tyas mengatakan bahwa daerah memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadap penyelenggaraan TDS sehingga menganggap pelaksanaan TDS tidak efektif.

 

Sebagai penanggap Dr. Muhammad Yusuf mencoba menarik isu ini dalam tataran analisis ekosistem pariwisata. Dia berpendapat bahwa pariwisata berkaitan dengan banyak elemen dan sangat kompleks seperti budaya, keuangan, modal social, promosi, pasar, dan pemerintah. Sehingga dalam menganalisis keuntungan pariwisata diperlukan pemahaman yang kritis terhadap elemen lainnya. Menurutnya tidak bisa serta merta hanya melihat dampak ekonomi semata. Barangkali dengan adanya TDS akan memberikan dampak positif dari sisi social dan budaya, sisi optimism dan keterbukaan akses dan network, perbaikan image pemerintah dan destinasi secara global, dll.

Diskusi meluas pada perlunya menilik kembali metode analisis dampak pariwisata. Meskipun dampak pariwisata memiliki banyak pendekatan, namun belum ada yang benar benar bisa secara efektif memberikan gambaran pada seluruh elemen ekosistem. Demikian yang diungkapakan Prof. Heddy Shri Ahimsa dengan mengatakan, ‘Jangan terlalu terburu buru memberikan klaim bahwa kegiatan tidak bermanfaat sebelum melaksakan riset dengan metode yang tepat”. Dimana metode untuk menganalisis dampak dan manfaat juga menjadi PR bagi akademisi.

Seminar berlangsung dengan lancar diikuti oleh 110 peserta baik mahasiswa, praktisi pariwisata maupun masyarakat luas.

SSN Kepariwisataan #8: Kearifan Lokal Pariwisata: Kearifan Lokal Baru di Kampung Naga Jawa Barat ?

Pariwisata di Indonesia dinilai kurang mengakar pada nilai-nilai kearifan lokal. Pembangunan pariwisata terkesan masih berupaya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut sering menimbulkan dampak negatif dan berpotensi menjadikan pariwisata tidak berkelanjutan.

Demikian bahasan diskusi yang mengemuka  dalam Seminar Series Nasional Kepariwisataan ke #8 yang diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana, Prodi Kajian Pariwisata, Universitas Gadjah Mada pada Senin malam, (9/2). Seminar ini menghadirkan pembicara Dr. Awaludin Nugraha, M.Hum, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran yang juga merupakan alumni program Doktor Kajian Pariwisata UGM.

Awaludin mengatakan penyelenggaraan pariwisata berkelanjutan sebenarnya telah diamanatkan dalam Undang-undang No 10 tahun 2009. Oleh sebab itu, penyelenggaraan pariwisata berkelanjutan seyogianya memperhatikan nilai-nilai budaya lokal, terutama kearifan lokal yang tumbuh dan melembaga dalam masyarakatnya. Sementara budaya lokal cenderung hanya menjadi komoditas.

Melakukan riset di Kampung Naga, Jawa Barat, Awaludin melihat bahwa kawasan ini telah menjadi destinasi wisata yang populer. Kendati begitu, masyarakatnya tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal.

Kampung Naga telah ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara sejak tahun 1970-an.
Kampung Naga menawarkan lima tipe wisata di dalamnya yaitu wisata budaya sebagai tujuan utama, wisata budaya kebetulan, wisata budaya jalan-jalan, wisata budaya santai, dan wisata budaya insidental.

“Masyarakat adalah tamu dan kerabat jauh yang sedang bersilaturahmi kepada leluhur sehingga tamu yang datang ke Kampung Naga sangat dihormati dan dilayani dengan baik tanpa meminta imbalan uang masuk (entrance fee) seperti desa wisata yang sudah dikelola secara komersial,” paparnya.

Sementara pemerhati parwisata dari UGM, Dr. Pande Made Kutanegara, M.Si., menegaskan perlunya memahami kearifan lokal masyarakat dan mengintegrasikannya di dalam pengembangan masyarakat. Sebab, masyarakat bukan objek pembangunan, tetapi subjek pembangunan.

Ia menambahkan kearifan lokal juga berfungsi untuk menjaga keberlanjutan sebuah kelompok masyarakat, antara lain dengan melakukan konservasi dan pelestarian sumber daya alam, umat manusia, ilmu pengetahuan, budaya dan tradisi, etika dan moral masyarakat, serta menciptakan hubungan harmonis antara manusia dengan manusia maupun dengan alam sekitarnya.